Nggak Semua Kayak Gitu
Sepertinya ini juga jadi vakum terlama yang pernah terjadi selama blog ini dibuat. Mungkin untuk kalian pembaca PraharaPikiran, permintaan maaf merupakan hal yang sudah sangat basi ya. Namun aku memilih keras kepala dan akan tetap minta maaf juga ngasih alasan klise kenapa aku lama sekali menelantarkan blog ini.
Daripada cuma satu kalimat permohonan maaf, aku pikir ada baiknya kalau aku cerita aja apa yang sedang terjadi di balik layar saat ini. Sekarang aku sedang juggling di antara banyak kegiatan. Magang sebagai Tim Multimedia di salah satu anak perusahaan media, menulis cerita di wattpad, freelance content writer, urusan organisasi, dan revisian draf proposal. Mari jangan kita kupas satu persatu.
Oke, aku rasa sudah cukup penjelasan kenapa aku tidak mengupdate blog pribadi ini selama beberapa bulan. Sekarang mari kita berbicara tentang hal yang sebenarnya mau aku bicarakan di sini. Saat ini aku sedang terganggu—sebenarnya udah dari dulu sih—tapi sekarang makin nggak suka—dengan kalimat “Nggak semuanya kayak gitu”. Aku yakin kalau kalian sering melihat percakapan atau bahkan pertikaian antara netijen, kalian sering banget melihat kalimat ini.
•“Fans K-Pop tuh toxic banget deh!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
•“Cowok tuh kenapa sih suka banget godain cewek yang lewat di jalan?!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
•“Cewek tuh harus banget ya keluar rumah pake makeup?” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
•“Orang Indonesia nggak bisa banget ngantri deh!” –> “Nggak semuanya kayak gitu.”
Orang-orang yang memberikan counter argument “Nggak semuanya kayak gitu” tuh annoying banget. Mereka nggak paham bahwa orang pertama yang memberi opini ini atau si OP memang nggak pernah dan nggak ada maksud menilai bahwa semua fans K-Pop itu toxic, semua cowok suka ngegodain cewek di jalan, semua cewek pakai makeup, dan semua orang Indonesia nggak bisa ngantri. Si pemberi opini hanya membuat narasi yang berasal dari opini pribadi dan apa yang lebih sering dia lihat. Mungkin lebih sering melihat fans K-Pop yang galak-galak dan tukang bully, ketimbang fans yang adem dan santuy. Atau mungkin lebih sering bertemu dengan cowok-cowok yang suka godain dia di jalan ketimbang cowok yang diam aja kalau OP lewat. OP-nya mungkin lebih sering melihat cewek yang berias dibanding cewek yang nggak pakai bedak atau pensil alis. Atau OP juga mungkin lebih sering melihat orang-orang Indonesia yang sukanya nyelak antrian, ketimbang yang tertib.
Terlebih, argumen “Nggak semuanya kayak gitu” itu tuh nggak nyambung sama inti dari pembicaraan, tapi diucapkan karena mau sok-sokan kritis, sok-sok “melihat dua sisi”, sok edgy dan sok-sok lainnya, dan sebenarnya cuma buat cari-cari kesalahan dari suatu kalimat tapi sayangnya nggak ada poinnya.
Ada satu situasi yang menurut aku kalimat “Nggak semuanya kayak gitu” itu tuh makin menjengkelkan, makin salah tempat, dan makin tidak perlu diucapkan. Yaitu ketika kita, cewek-cewek, sedang misuh-misuh terhadap perlakuan cowok-cowok yang kurang ajar. Aku yakin hampir semua perempuan pernah mengalami pelecehan seksual apapun levelnya. Dari yang cuma mendapatkan siulan waktu lagi jalan ke kampus atau kantor, mendapatkan bercandaan seksis, ditoel saat dikeramaian, atau bahkan lebih. Banyak perempuan yang pernah mengalami. Pun ada dari kalian yang nggak pernah, kalian pasti kenal paling tidak satu orang yang pernah jadi korban. Namun mau senyata apapun fakta di atas, akan selalu ada–terutama laki-laki–yang mencoba menampik hal tersebut dengan kalimat “Nggak semua cowok kayak gitu”.
Pertama, nggak semua pria seperti itu tapi bukan berarti nggak ada. Karena seperti yang bilang di atas, banyak perempuan yang mengalami pelecehan seksual dan hal tersebut dilakukan oleh pria. Nggak semua laki-laki seperti itu bukan berarti sexual assault yang dilakukan tidak terjadi. Nggak semua ≠ tidak ada. Kedua, dengan memberikan argumen bodoh seperti ini, orang-orang seperti tidak mengindahkan bahwa ada perempuan-perempuan yang menjadi korban dan aku melihat mereka seakan-akan mencoba untuk tidak mengacuhkan amarah, rasa sedih, rasa jijik, dan segala emosi negatif yang muncul saat insiden tersebut terjadi kepada perempuan.
Lalu apa solusi yang bisa orang-orang ini berikan jika respon mereka terhadap pelecehan seksual adalah “Nggak semua cowok kaya gitu.”? Poin apa yang mereka coba berikan dengan respon sok edgy macam ini? Mereka mau bilang ke kita bahwa kita lagi apes aja? Mereka mau bilang ke kita bahwa mereka berbeda? Mereka berbeda dari pria yang melecehkan kita? Mereka mau bilang kita terlalu berlebihan dalam menghadapi ini semua? Maksudnya apa?
Menurut aku sih respon tersebut malah menutup kesempatan bagi laki-laki untuk menjadi ally dan membantu perempuan dengan cara memperbaiki inner circle mereka. Hal ini bisa aku bandingkan dengan aksi terorisme yang biasa terjadi dan kebetulan yang melakukan teror adalah orang Islam. Aku sudah sangat lelah dengan Muslim yang berkoar-koar dan banyak bacot (terutama di media sosial) bahwa nggak semua Muslim seperti itu. Ya, betul sekali, memang nggak semua Muslim otaknya sengklek dan menganggap membunuh orang adalah jihad. Tapi sayangnya ada sekian persen dari Muslim yang berpikir demikian. Dan kita sebagai Muslim harusnya bertanggung jawab dan memang memiliki tugas untuk membuat counter narrative dan mempromosikan Islam moderat untuk mencoba mengalahkan para ekstrimis ini. Karena apa? Karena itu agama kita. Karena orang-orang yang ekstrim ini sayangnya memiliki label yang sama dengan kita. Mereka adalam Muslim.
Daripada capek-capek merasa tersinggung, merasa tidak direpresentasikan dengan tepat dan dicap tidak sesuai dengan kemauan kalian, dan selalu meng-Nggak semuanya kayak gitu-in apapun narasi yang kalian lihat di masyarakat, lebih baik kalian coba berusaha menjadi representasi yang baik atas apapun label yang kalian representasikan.
Kalau kalian adalah K-Popers, daripada kalian misuh-misuh melihat orang memberikan imej negatif terhadap itu, mending kalian jadikan ini kesempatan untuk menjadi contoh fans K-pop yang santuy dan berbeda dari apa yang kebanyakan orang lihat. Daripada kalian bacot-bacot ke orang non Muslim yang bilang bahwa orang Muslim itu teroris, mending kalian usaha untuk membangun citra Islam yang adem-ayem, yang memang sesuai dengan ajaran Rasulullah.
Daripada kalian (hai para lelaki) merasa tersinggung karena dianggap cabul dan suka melakukan pelecehan, mendingan kalian edukasi diri kalian DAN mengedukasi fellow men di lingkaran kalian bagaimana cara menghadapi perempuan yang sebenarnya.
Hai kamu, memang nggak ada kok yang bilang semuanya kayak gitu. Itu semua cuma otakmu yang tercemar hatimu yang tersinggung dengan “generalisasi” yang orang lain buat terhadap kelompokmu saja. Kita-kita juga tau nggak semuanya kayak gitu. Kita juga nggak lagi ngomongin *kamu*, tapi orang-orang di kelompokmu. Nggak semua narasi harus tentang diri kamu kok. Kamu aja yang sensitip kali ah.
Komentar
Posting Komentar