Perempuan, Media, dan Gerakannya

Perempuan atau wanita? Pertanyaan ini sangat identik dengan jenis kelamin yang menyerap banyak sisi-sisi feminitas kosmik. Kita memanggilnya perempuan atau wanita sebenarnya bukanlah perdebatan yang substansial. Yang penting adalah bagaimana feminisme itu menyublim secara sempurna dalam diri perempuan (wanita) dan merealitas secara nyata dalam tindakannya. Meski banyak yang menolak dirinya disapa wanita dengan alasan kata ini identik dengan 'betina' yang memiliki makna tidak estetik untuk memanggil perempuan.

Mengapa perempuan? Karena kata ini berasal dari kata ‘empu', yang menggambarkan bahwa merekalah sang empu atau kaum yang dihormati. Hanya perempuan lah yang bisa disebut ibu pertiwi, dewi kesuburan, dewi kecantikan,dann macan istilah lainnya. Istilah ini mengantarkan perempuan ke tingkatan yang mulia dan memang harus dimuliakan. 

Dalam masyarakat modern penyelewengan makna istilah perempuan juga nampak di berbagai sisi. Kemudian, gerakan perempuan adalah gerakan melawan segenap struktur kekuasaan hukum dan aturan-aturan yang menjadikan kaum perempuan sebagai kaum rendah subordinat dan kelas dua. Kaum perempuan secara sadar berjuang bersama demi hak-hak mereka karena itulah satu-satunya jalan yang bisa memenangkan hak-hak tersebut. Memang dalam kehidupan yang harus modernisasi kebebasan itu sepertinya bukanlah sesuatu yang terbaru dari langit. Terkadang kita harus sedikit memiliki keberanian untuk membuat kebebasan itu. 

Munculnya berbagai gerakan keperempuan yang dengan gender, membuat masyarakat latah dan gampang membicarakan hakekat keperempuan dan merupakan salah satu penyebab distorsi tersebut. Sederetan aksi sebagian perempuan yang dipertontonkan oleh media semakin membuat mereka lupa bahwa mereka adalah empu yang selayaknya dihormati dan menghormati dirinya sendiri.

Tidak bisa dipungkiri bahwa media baik cetak maupun elektronik yang membuat kita tahu tentang kisah-kisah perempuan susukses. Dan karena media pula lah perempuan menjadi cerdas dan kreatif. Tetapi sayangnya niat media dalam menyampaikan pesan-pesan positifnya untuk kemaslahatan kaum perempuan tidak sepenuhnya tersampaikan.  Singkatnya, media menyeret perempuan dalam sebuah ruang tanpa batas, ruang yang di penuhi euforia dunia. Sebagian perempuan dalam media tidak membuat mereka sadar akan ke perempuan dan nyata tapi membuat mereka berjarak dari diri otentiknya, sangat konsumeristik berperilaku hedonistik, dan semakin jauh dari nilai-nilai spiritual dan intelektual. 

Meski kita tidak bisa sepenuhnya menyalahkan media, namun seharusnya media mempertahankan independen dari para pemilik modal yang seolah-olah mengendalikan media, karena pemilik modal ini tidak peduli terhadap kualitas acara tetapi lebih membandingkan kesan hiburannya. Sejak dari dulu, media adalah sahabat masyarakat, dan sebagai sahabat seharusnya media memberi pesan positif bukan malah sebaliknya. Semoga media dan perempuan mampu berjalan seiring untuk menjadikan perempuan lebih terpercaya kan, dan menjauhkan perempuan dari telikungan ‘kecantikan’ yang sebenarnya hanyalah sebuah mitos. 

Pict: Gitasav


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stay Confused and Live a Life

GAGASAN DAN SOLUSI MAHASISWA DALAM MENGHADAPI COVID-19