Self Assessment
Halo, Selamat datang di PraharaPikiran, lumayan lama juga ya blog ini tidak ter-update. Well berbeda dengan isi blog sebelumnya, yang berisi opini ke-perempuan-an, kali ini aku akan mengeluarkan isi kepala yang sibuk wara wiri beberapa waktu belakangan.
Manusia adalah mahluk yang nggak pernah berhenti membuat aku terpana dengan segala macam tingkahnya, segala macam sifatnya, dan segala macam keribetannya.
Kali ini aku mau cerita sedikit tentang pandanganku terhadap manusia. Entah itu manusia lain, maupun aku yang terakhir kali ku check masih berupa manusia. Manusia itu membuat terlalu banyak judgement, kataku. Kita menilai diri kita nggak mampu untuk melakukan sesuatu atau banyak hal. Kita menilai diri kita tidak lebih dari sampah, sementara orang-orang lain banyak yang lebih pintar dan lebih sukses dari kita. Selain mencari keburukan diri sendiri, kita juga senang sekali mencari keburukan orang lain. Kalau kita bertemu sama seseorang, yang pertama kali kita lakukan adalah meng-scanning dirinya dan mencari celanya. Entah itu muka ataupun bagian fisik lainnya. Setelah selesai meng-scanning fisiknya, kita lanjut dengan meng-scanning hidupnya.
Dulu pun aku begitu. Aku manusia yang penuh dengan pikiran buruk. Entah itu ke diriku sendiri maupun ke orang lain. Apapun yang ku lakukan, tidak ku cari baiknya, tapi malah mencari kurangnya. Aku mencari-cari perbedaan antara bayangan yang aku punya dengan realita yang ada dan mencoba mencari letak kesalahannya. Acap kali aku melihat diri sendiri di kaca, yang ku liat adalah betapa besarnya jidat ku yang menyebabkan aku harus menutupinya dengan poni dan menyesali kenapa aku nggak bisa punya tulang pipi seperti layaknya perempuan-perempuan dewasa pada umumnya, atau kenapa tidak semenarik perempuan lainnya
Alhasil aku nggak pernah bersyukur. Aku nggak pernah mengapresiasi apa yang aku lakukan dan apa yang aku punya. Aku nggak pernah menghargai diri aku sendiri.
Ternyata orang yang tidak menghargai diri sendiri biasanya juga tidak menghargai orang lain. Karena perlakuan aku ke orang lain juga nggak jauh beda. Setiap kali ketemu orang, yang ku cari selalu kurangnya. Mengukur-ngukur proporsi wajahnya. Kalau jidatnya lebih lebar dari "ideal"nya, jidatnya lah yang menjadi fokus pertama ku. Begitu juga kalau lengannya lebih gemuk dari pergelangan tangannya, kalimat "Gendut juga ni cewe." sudah terucap di dalam hati.
Begitu pula dengan apapun yang orang lain kerjakan dan hasilkan. Pasti ku cari kurangnya. Pasti ku cari di mana salahnya.
Karena begitulah manusia. Suka mencari kekurangan. Nggak tau caranya menghargai diri sendiri, tapi minta dihargai orang lain. Padahal kita ini adalah mahluk yang paling nggak bisa melakukan hal tersebut.
Tapi lama-kelamaan aku bosan dengan kekeruhan aku dalam memandang manusia. Aku berlatih untuk paling tidak nggak memberi penilaian terhadap apapun.
Melihat diri di kaca sekarang hanya sekadar melihat diri di kaca tanpa mengukur-ukur proporsi pipi ku dengan bagian wajah lainnya. Melakukan sesuatu hanya sekadar berbuat baik tanpa mengintip apa yang orang lain sudah atau sedang lakukan. Melakukan sesuatu hanya sekadar ingin menikmati hidup dengan menyebarkan kebaikan tanpa membentuk pengharapan yang berpotensi untuk bikin aku jadi manusia paling sialan sedunia, yaitu manusia yang sudah diberi banyak berkah tapi masih bisa mencari apa yang bisa dikeluhkan.
Terlebih ketika aku melihat orang lain, melihat apa yang dikerjakannya. Ada usaha yang teramat keras di sana, yang nggak dia tunjukkan kepada aku, yang nggak dia tunjukkan di dunia maya. Ada berpuluh-puluh malam dilewatinya tanpa tidur, yang nggak dia share di lini masa Instagram-nya.
Orang-orang lain termasuk aku, hanya melihat hasilnya. Hanya melihat hasil dari usaha kerasnya, tanpa mengetahui seberapa berat beban yang harus dipikulnya. Hanya melihat hasil dari jerih payahnya, yang bahkan masih kami cari-cari kekurangannya.
I don't want to be that person who thinks she knows better, who thinks everything has to be the way she wants.
I don't want to be that person who cannot see the good side in others. Who will always complain about what other people did, but doesn't realize that she has not done anything yet.
Banyak yang mencurahkan hatinya kepadaku karena mereka kecewa dengan keadaannya kini. Tidak sesuai dengan usaha yang sudah diberikan, katanya. Lalu apa sebenarnya tujuannya kamu berusaha? Hanya supaya bisa dapetin apa yang kamu mau?
Banyak juga yang sekadar mengeluhkan penampilannya. Seolah-olah mereka bukan suatu kekurangan.
That's the key, my friend. Aku tau caranya menghargai diri aku sendiri. Aku tau caranya menyayangi diri aku sendiri. Aku tau caranya mengapresiasi diri aku sendiri.
Kekurangan tidak aku lihat sebagai kekurangan, tapi sebagai bagian dari diriku. I don't hide it. I embrace it.
Kegagalan tidak aku lihat sebagai kegagalan, tapi sebagai kesempatan untuk aku belajar lebih baik lagi.
Hidup aku lihat sebagai tempat aku mencari pengalaman, tempat aku belajar dari orang-orang, tempat mendapatkan inspirasi dari sekitar. Bukan tempat aku meraih ini dan itu, menyuapi ego yang selalu haus akan pengakuan.
Hargailah dirimu. Hargailah orang-orang di sekitarmu.
Mulailah untuk melihat indahnya dirimu dan hidupmu. Dan lihatlah selalu kebaikan dari kanan-kirimu. Sekian.
Have a nice dream everyoneeeđź’›
Bener banget! Mau gimanapun bentuknya kalo kita bersyukur pasti bakal kerasa nikmatnya buat kita atau orang lain sekalipun. Paling susah emang buat jadi orang yang ikhlas dan bersyukur, tapi mungkin emang itu ujian manusia
BalasHapus