GAGASAN DAN SOLUSI MAHASISWA DALAM MENGHADAPI COVID-19

Saat ini dunia sedang digemparkan oleh wabah Corona Virus Disease atau COVID-19, dengan kota Wuhan di Cina menjadi yang pertama terkena wabah tersebut. Kemudian Thailand dilaporkan menjadi negara pertama di luar China yang memiliki kasus Covid-19. Di susul Timur Tengah untuk pertama kalinya melaporkan kasus impor dalam empat keluarga, dan diikuti berbagai Negara di belahan dunia lainnya. 
Untuk mengantisipasi semakin merebaknya Covid-19 beberapa upaya dilakukan, salah satunya adalah pembatasan atau lockdown atau karantina wilayah yang pertama kali dilaksanakan di Wuhan kemudian diikuti oleh Provinsi Hubei, Tiongkok. Dalam upaya penanganan wabah ini otoritas di sejumlah Negara kemudian menerapkan kebijakan pembatasan yang beragam. 
Di Indonesia, Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan kasus pertama Covid-19 pada tanggal 20 maret 2020. Dua warga Negara Indonesia yang positif Covid-19 tersebut telah mengadakan kontak langsung dengan Warga Negara Jepang yang datang ke Indonesia. Belakangan muncullah kasus-kasus lainnya di Indonesia yang mana angka pasien meninggal lebih banyak daripada angka kesembuhan.
Beberapa kampus di Indonesia sesuai arahan pemerintah telah menghentikan proses kegiatan belajar mengajar langsung menjadi kuliah daring atau online. Kuliah daring membuat mahasiswa diharuskan berdiam diri di rumah masing-masing, Dr. April menghimbau agar mahasiswa tidak melakukan aktifitas di luar rumah atau ruangan dengan bertemu banyak orang yang dapat meningkatkan resiko tertular virus Corona. “Mahasiswa harus sadar akan kesehatan sendiri dan orang lain, dan jangan panic atau stress, karena stress dapat memperlemah sistem imun yang justru berbahaya dalam situasi ini. Jangan pernah menganggap sepele Covid-19, sebab virus ini tidak hilang dengan sendirinya, \ini dapat mengakibkematian bagi si penderita yang memiliki riwaya tertentu kemudian terjangkit karena sistemimun atau kekebalan tubuhnya lemah.”
Pada situasi sepprti ini sangat dibutuhkan penambahan literasi, melakukan promosi kesehatan da ikut ambil bagian dalam setiap kebujakan demi mengurangi penyebaran Covid-19. Promosi kesehatan bukan hanya kita menuliskan rekomendasi, memajang poster, tapi yang terpenting adalah kita tau apa yang kita lakukan seperti memproteksi kesehatan public dan mengurangi dampak sosialnya. Kita harus memastikan rekomendasi yang ada dapat mengurangi penyebaran virus dilingkungan kampus. Semua pihak harus terlibat mulai dari pembuat kebijakan hingga penyelenggara kebijkan. Semua mahasiswa harus mengambil aksi dengan melakukan prinsip social distancing,  meningkatkan literasi, belajar di rumah, dan online learning. Semua yang berperan adalah pahlawan, dengan menjaga upaya penularan virus semakin rendah, jadilah agen of change dalam situasi pandemic ini.

Melihat angka loncatan pasien Covid-19 di Indonesia bahkan dunia yang sangat fastastis harusnya menyadarkan kita bahwa wabah Covid-19 bukan hanya terkhusus harus dilihat dari pendekatan kesehatan, akan tetapi semua aspek dapat melihatnya dan mencari serta memberikan solusi tak terkecuali gerakan mahasiswa, komunitas-komunitas, para akhtivis, ilmuan, pemerintahan, maupun masyarakat umum.
Dampak outbreak Covid-19 ini sangat luas. Peraturan pemerintah nomor 21 tahun 2020 tentang “Pembatasan Sosial Berskala Besar dalam rangka Percepatan Penanganan Covid-19”, misalnya menulis bahwa dampak virus ini masuk pada aspek politik, ekonomi, sosial dan budaya, pertahanan dan keamanan, serta kesejahteraan masyarakat. Diksi yang ada dalam PP ini tentu saja tidak asal tulis, tetapi ditulis setelah melewati beberapa analisis. 
Artinya, wabah ini herus ditangani multi aspek. Gerakan mahasiswa sebagai sebagai agen kontrol sosial dan agen perubahan (Agen of Change), tentu saja harus mengontrol masyarakat agar tetap dalam koridor tatanan sosial, atau dalam arti lain harus mengontrol agar pemerintah tidak salah langkah dalam menjalankan roda pemerintahan. Ada juga yang menambahkan mahasiswa sebagai agen pengarah perubahan. Apapun jenis keagenan itu, pada intinya mahaiswa harus tetap dinamis dalam semua fenomena yang berdampak luas pada masyarakat.
Gerakan mahasiswa terdiri dari cendekiawan muda atau calon cendekiawan yang meniti karier dalam bebagai bidang. Ada yang kelak focus dibidang keilmuan, menjadi ilmuan atau saintis ada juga yang ingin menjadi politisi atau pengusaha. Dalam konteks Covid-19, gerakan mahasiswa dapat membuat gugus tugas yang mengawal penanganan Covid-19. Langkah ini sangat baik agar mahasiswa, tidak hanya dikenal sebagai “Jagoan Jalanan”, demonstran, tanpa ide-ide dan langkah cerdas untuk menjadi solusi ditengah krisis yang terjadi di masyarakat. Inisiatif seperti itu sangat baik untuk dilanjutkan dalam berbagai kepakaran dan peminatan masing-masing.
Penggalangan dana juga sangat baik mereka lakukan secara online. Saat ini, dimasa social atau physical distancing, kita memang diminta untuk lebih banyk berdiam dirumah agar penyebaran virus dapat terkurangi. Dimasa seperti ini penggalangan dana cukup bagus dilakukan yang mana dapat disalurkan untuk keluarga yang terdampak, contohnya kepala keluarga yang tidak bisa bekerja dimasa pandemic atau di PHK dari tempat kerja atau perusahannya dan sangat membutuhkan bantuan dari sekitarya.
Masing-masing cabang gerakan dapat membuat list siapa saja tetangga mereka yang harus di bantu. Uang memang cepat habis, tetapi semangat untuk saling bantu ini merupakan modal sosial yang dampaknya bertahan lama. Ini juga sekaligus menjadi karakter manusia Indonesia yang senang bersosialisasi, senang membantu,gotong-royong, dan mencerminkan “Persatuan Indonesia”.
Tentu saja menjaga jarak dalam penyaluran bantuan harus tetap diperhatikan agar para relawan gerakan mahasiswa juga tetap sehat dalam kontribusi mereka kepada masyarakat. Indonesia sangat kaya dengan pengalaman mahasiswa yang membantu sebangsa dan setanah air di tengah kesulitan seperti tsunami, gempa bumi, banjir, hingga kerusuhan sosial yang melanda beberapa daerah.
Sebagai insan terdidik, mahasiswa juga dituntut untuk bisa menelurkan gagasan cerdas, sebagai solusi masalah Covid-19 dalam berbagai sudut keilmuan mereka. Tentu kita tidak harus tau seutuhnya tentang virus ini, tetapi pengetahuan dasar kita tentang penyebaran virus dan dampaknya yang dapat merusak tatanan patut untuk di kaji. 
Membaca Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitasi Sistem Keuangan untuk penanganan pandemic Covid-19 dan atau dalam rangka menghadapi ancaman yang membahayakan perekonomian nasional dan atau stabilitasi sistem keuangan juga bagus sekali untuk melihat sisi ekonomi perdebatan soal darurat sipil yang mungkin diambil jika PSBB tidak cukup bagus sekali merujuk pada Perpu Nomor 23 1959 yang beberapa pasalnya diangapsudah tidak relavan..
Olah gagasan sangat perlu dibudayakan dalam gerakan mahasiswa. Harus menjadi kultur, menjadi darah daging dalam pikiran dan tindakan mereka. Membaca buku menjadi habbit paling penting yang harus dijaga selain berdiskusi yang cerdas, tidak asal bunyi, dan semaksimal mungkin juga bertanya sesuatu yang strategis dan bermakna.
Sudah saatnya gerakan mahasiswa dimasa krisis wabah Covid-19 seperti sekrang untuk memproduksi gagasan kreatif dan cerdas mereka yang dibagikan di media cetak atau minimal di media sosial. Paling tidak, mereka harus membiasakan membaca bacaan berkualitas tiap hari dan merenungkannya, kemudian menuliskannya di ruamah masing-masing. 
Kuliah daring membuat mahasiswa diharuskan berdiam diri di rumah masing-masing, Dr. April menghimbau agar mahasiswa tidak melakukan aktifitas di luar rumah atau ruangan dengan bertemu banyak orang yang dapat meningkatkan resiko tertular virus Corona. “Mahasiswa harus sadar akan kesehatan sendiri dan orang lain, dan jangan panic atau stress, karena stress dapat memperlemah sistem imun yang justru berbahaya dalam situasi ini. Jangan pernah menganggap sepele Covid-19, sebab virus ini tidak hilang dengan sendirinya, \ini dapat mengakibkematian bagi si penderita yang memiliki riwaya tertentu kemudian terjangkit karena sistemimun atau kekebalan tubuhnya lemah.”
Pada situasi sepprti ini sangat dibutuhkan penambahan literasi, melakukan promosi kesehatan da ikut ambil bagian dalam setiap kebujakan demi mengurangi penyebaran Covid-19. Promosi kesehatan bukan hanya kita menuliskan rekomendasi, memajang poster, tapi yang terpenting adalah kita tau apa yang kita lakukan seperti memproteksi kesehatan public dan mengurangi dampak sosialnya. Kita harus memastikan rekomendasi yang ada dapat mengurangi penyebaran virus dilingkungan kampus. Semua pihak harus terlibat mulai dari pembuat kebijakan hingga penyelenggara kebijkan. Semua mahasiswa harus mengambil aksi dengan melakukan prinsip social distancing,  meningkatkan literasi, belajar di rumah, dan online learning. Semua yang berperan adalah pahlawan, dengan menjaga upaya penularan virus semakin rendah, jadilah agen of change dalam situasi pandemic ini.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stay Confused and Live a Life

Perempuan, Media, dan Gerakannya