Perempuan, Pendidikan dan lain-lainnya

Perempuan, Pendidikan dan lain-lainnya (ini karena pembahasan tentang perempuan selalu semarak ๐Ÿ˜…)

Setelah berulang kali ikut seminar online yang membahas tentang dunia pendidikan dikaitkan dengan perempuan, saya jadi ingin ikut berceloteh haha. (Efek webinar merajalela di masa pandemi ๐Ÿ˜†)

Celotehan ini dilatarbelakangi diskusi-diskusi yang seringkali diisi dengan pertanyaan dari beberapa peserta yang menggambarkan ketakutan bahwa perempuan tidak boleh bersekolah terlalu tinggi, tidak boleh terlalu berprestasi, dan tidak boleh-tidak boleh lainnya. Alasannya sederhana bahwa semua pencapaian tadi, bisa membuat perempuan dianggap terlalu ambisius, superior, sehingga tidak akan terlalu disukai.

Saya pernah membaca artikel bahwa rasa ketidaksukaan akan prestasi perempuan, menurut beberapa penelitian, justru berasal dari sesama perempuan. Dengan dasar bahwa sejak kecil kita sudah dibentuk menjadi golongan yang tidak suka berkompetisi, beda halnya dengan anak laki-laki yang justru kompetisi adalah bagian yang membentuk karakter (personal) dan kemampuannya (professional). Karena pola asuh yang berbeda tadi, sehingga jika salah satu dari perempuan dalam lingkup atau kelompok yang sama, menonjol, rasa tidak suka akan mudah untuk hadir.

Saya sendiri tidak menganggap bahwa sekolah tinggi adalah sebuah prestasi yang harus dianggap lebih, dibanding pencapaian lainnya. Yang paling utama adalah bagaimana kita selalu berupaya untuk meningkatkan kapasitas diri. Jalan yang dipilih boleh berbeda, sesuai kenyamanan dan kesempatan masing-masing. Ada yang memilih jalur formal, tak sedikit juga yang memilih jalur informal. Pada dasarnya yang harus kita fokuskan adalah outcome (hasil) dari proses belajar yang dipilih untuk dijalani.

Hal yang juga paling banyak disinggung dalam diskusi, adalah perempuan bersekolah ke luar negeri. Mungkin salah satu penyebabnya karena banyak kabar miring tentang kehidupan di luar negeri bisa memberikan pengaruh negatif terhadap pola pikir, pembentukan karakter, serta yang paling sederhana menghilangkan jati diri sebagai seorang muslimah. Padahal logikanya, setiap pilihan yang disodorkan kepada kita, dari lingkungan kita tumbuh atau ruang tempat kita belajar, itu semua selalu disertai dengan tombol "kontrol" dibawah kendali kita. Jadi tenang saja, jika ditakdirkan untuk hidup dan tinggal di luar negeri, kita tetap bisa membawa nilai-nilai yang kita yakini, menunjukkan identitas kita - untuk muslimah sendiri, menurut saya, identitas paling sederhana yah dengan hijabnya.

Saya pribadi melihat di masa kini, tingkat kesadaran dan pemahaman bahwa dalam hal "belajar" semua orang memiliki kesempatan yang sama, sudah semakin baik. Jadi heran juga, jika ternyata masih banyak ruang-ruang diskusi yang disisipi dengan ketakutan-ketakutan yang tidak divalidasi dengan benar, sehingga melahirkan kekhawatiran berlebih tentang standar "ideal" bagi seorang perempuan, yang disampaikan oleh para perempuan.

Jadi, jika kamu berposisi sebagai orang tua, maka persiapkanlah anak perempuanmu menjadi perempuan yang tangguh. Apabila kamu adalah seorang pasangan, maka dukunglah pasanganmu menjadi perempuan yang berdaya. Apabila kamu seorang perempuan, maka jadilah perempuan yang bisa diandalkan, haus akan belajar dan terus meningkatkan kemampuan. Agar tidak ada lagi kekhawatiran-kekhawatiran sama yang terus berulang, pembahasan yg hanya itu-itu saja.

-Y.A-

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Stay Confused and Live a Life

GAGASAN DAN SOLUSI MAHASISWA DALAM MENGHADAPI COVID-19

Perempuan, Media, dan Gerakannya