Budaya dan Perempuan: Kontruksi yang tak memihak
Mengenai tulisan ini, saya sudah saya katakan sebelumnya perempuan itu cantik, tidak peduli dia tinggi atau pendek, kurus, gemuk dan atau sebagainya dia tetap cantik. Jadi tidak sepantasnya bentuk tubuh sempurna harus di tuntutkan kepada mereka. Mereka perempuan tapi bukan berarti kalian (Lelaki, dalam konteks ini tidak semua melainkan sebagian) hanya menjadikannya boneka barbie pajangan. Sungguh tak bisa ku nalar. Sebab terlahir menjadi perempuan dengan bentuk tubuh seperti ini bukanlah sesuatu yang menjadi kemauan kami, pun bukan perkara yang bisa kami tolak.
Perempuan kami juga punya akal dan logika, tapi bagaimana mereka bisa berkembang jika yang kau tanyakan hanyalah basa-basi gombalan tak bermakna. Ajak perempuan mu diskusi, angkat isu-isu sosial yang mendunia ataupun dalam lingkungan sekitar. Perempuan tidak hanya selalu soal perasaan, perempuan tidak hanya selalu soal make up dan manja. Perempuan itu cantik, selalu cantik apa adanya, lelaki bisa saja memiliki kriteria perempuan impian tapi jangan paksa perempuan kehilangan jatidirinya hanya karena urusan mata yang selalu mau memandang perempuan bak boneka dalam box, sexy dan manja.
Perempuan tidak sepantasnya dipandang sebelah mata dan dijadikan boneka mainan. Perempuan pun harus banyak belajar agar tidak mudah jatuh dengan kata-kata laki-laki, tidak mudah tergoda dengan rayuan, dan tidak bodoh dalam pemikirannya serta dunia. Seorang perempuan juga harus memiliki motivasi pergerakan feminisme dan penegasan indentitas kaum perempuan, sampai sekarang gender dan feminisme masih di perbincangkan, pun pada masyarakat Bugis-Makassar. Tradisi Bugis-Makassar, dikenal dengan budaya patriarki, meski demikian budaya tersebut tidak serta-merta meruntuhkan peran perempuan Bugis-Makassar kerena sejarah mencatat, banyak perempuan-perempuan yang tidak kalah hebatnya dari laki-laki Bugis-Makassar.
If we draw line to the back, kita akan menjumpai perempuan-perempuan yang memerintah kerajaan di seluruh pelosok semenanjung selatan pulau Sulawesi.
Selain itu, dikenal juga Colliq Pujie. Beliau merupakan seorang bangsawan Bugis yang hidup pada abad-19. Beliau bukan hanya Bangsawan, tapi juga pengarang dan penulis, sastrawan, negarawan, politikus yang pernah menjalani masa tahanan 10 tahun di Makassar. Prinsip hidupnya adalah "Inninawakku muwita, Mau natuddu' solo'. Mula linrung muwa". Dan banyak lagi Ratu serta penguasa perempuan Bugis-Makassar lainnya.
Dalam epos perempuan Bugis-Makassar, motivasi gerakan serta ideologi geraknya jelas, mengakar, dan mendunia. Indonesia, khususnya Bugis-Makassar memiliki banyak tokoh-tokoh perempuan yang bisa di teladani. Anehnya, generasi sekarang merasa modern jika mengetahui tokoh-tokoh perempuan dunia, dan merasa tidak modern dengan kearifan lokalnya.
Source: Muchniart Az "Perempuan Bugis-Makassar"
: Thomas Stamford "History of Java"
Mantap ndik
BalasHapusWaah. Terima kasih kak 😊🙏
HapusWahh bagus lanjutkan
BalasHapusTerima kasih. Semoga suka dengan tulisan lainnya kak 😊
HapusMantap dik, lanjutkan 👍
BalasHapusTerima kasih kak, siap🙏
HapusMantapppp
BalasHapusTerima kasih kak😊
Hapuswah
BalasHapusSelamat Malam Buat Penulis yang budiman, Ucapan Terimah kasih saya lantunkan atas tulisan yang begitu menambah cara padang baru tentang perempuan.🙏
BalasHapusSedikit saja untuk membuat suatu pengisi kolom komentar, bahwa dalam beberapa cara padang tertentu kita melihat bayak sekali penjelasan tentang perempuan di katakan cantik itu seperti apa? Hal ini menjadi renungan saya beberapa waktu kemarin. Yang mana penjelasan yang objektif dalam beberapa padangan tersebut. Itu mungkin jadi suatu PR buat saya pribadi.
Kemarin saya diskusi dengan teman Saya ( Hati yang Tulus ) masalah perempuan, saya melihat beberapa penjelasan singkat yang menjadikan saya berfikir kuat waktu itu.
Ada beberapa pengertian tentang perempuan yang menjelaskan bahwa perempuan di katakan cantik kalau dia Putih,tinggi,Rambut lurus Dll, hal ini kemudian menjadi ukuran kecantikan perempuan pada kondisi-kondisi fisik saja. Dan sebagai suatu ukuran kecantikan pada perempuan hanya terletak pada lahiria (Materi). Bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan apa yang kita lihat dan apa yang kita raba. sejauh ini kita terkadang selalu meletakkan suatu standar tertentu untuk menjelaskan sesuatu. Hal ini menjadi suatu relevansi pengetauhan kita dalam tingkatan paling sederhana. Dari pengertian di atas, maka saya mengambil suatu kesimpulan singkat. pengertian perempuan cantik hanya pada standar-standar saja. Akibatnya dalam beberapa perempuan yang tidak mencapai standar tersebut menjadikan perempuan dilema dalam menjelaskan dirinya. dan bertanya-tanya sebenarnya saya cantik atau gk sih? Dalam kondisi tertentu secara alamiah tubuh sendiri mengalami perubahan. Yang semulanya masi segar dan sehat kemudian menjadi tua. Konsekusinya adalah cantiknya perempuan itu relatif. Dan ini meninggalkan persoalan pada perempuan tentang menjelaskan dirinya. karena ada standar-standar yang di letakan pada perempuan di luar dirinya. Harusnya kita harus mampu menjelaskan cantik itu adalah keniscayaan pada perempuan. Sehingga perempuan harus optimis bahwa kehadiranya merupakan suatu permata yang paling indah di muka bumi ini. Sebagaimana yang di jelaskan muthahhari ketika perempuan menggunakan emas, bukan emas yang memperindah perempuan tersebut. Tetapi perempuanlah yang memperindah emas tersebut.
Terimah kasih dan Salam.
Salam.
HapusTerima kasih juga kepada Kak Gie telah membaca dan memberikan tanggapan untuk tulisan ini. Benar-benar penjabaran yang sangat keren dan luar biasa menurut saya. Secara tidak langsung tanggapan ini juga menambah wawasan penulis. Terimakasih ☺️
Terimah kasih🙏
HapusSehat-sehat terus buat penulis,di tunggu tulisan-tulisan berikutnya