Postingan

Menampilkan postingan dari 2020

GAGASAN DAN SOLUSI MAHASISWA DALAM MENGHADAPI COVID-19

Saat ini dunia sedang digemparkan oleh wabah Corona Virus Disease atau COVID-19, dengan kota Wuhan di Cina menjadi yang pertama terkena wabah tersebut. Kemudian Thailand dilaporkan menjadi negara pertama di luar China yang memiliki kasus Covid-19. Di susul Timur Tengah untuk pertama kalinya melaporkan kasus impor dalam empat keluarga, dan diikuti berbagai Negara di belahan dunia lainnya.  Untuk mengantisipasi semakin merebaknya Covid-19 beberapa upaya dilakukan, salah satunya adalah pembatasan atau lockdown atau karantina wilayah yang pertama kali dilaksanakan di Wuhan kemudian diikuti oleh Provinsi Hubei, Tiongkok. Dalam upaya penanganan wabah ini otoritas di sejumlah Negara kemudian menerapkan kebijakan pembatasan yang beragam.  Di Indonesia, Presiden Joko Widodo secara resmi mengumumkan kasus pertama Covid-19 pada tanggal 20 maret 2020. Dua warga Negara Indonesia yang positif Covid-19 tersebut telah mengadakan kontak langsung dengan Warga Negara Jepang yang datang ke Indone...

Perempuan, Pendidikan dan lain-lainnya

Perempuan, Pendidikan dan lain-lainnya (ini karena pembahasan tentang perempuan selalu semarak  😅 ) Setelah berulang kali ikut seminar online yang membahas tentang dunia pendidikan dikaitkan dengan perempuan, saya jadi ingin ikut berceloteh haha. (Efek webinar merajalela di masa pandemi  😆 ) Celotehan ini dilatarbelakang i diskusi-diskusi  yang seringkali diisi dengan pertanyaan dari beberapa peserta yang menggambarkan ketakutan bahwa perempuan tidak boleh bersekolah terlalu tinggi, tidak boleh terlalu berprestasi, dan tidak boleh-tidak boleh lainnya. Alasannya sederhana bahwa semua pencapaian tadi, bisa membuat perempuan dianggap terlalu ambisius, superior, sehingga tidak akan terlalu disukai. Saya pernah membaca artikel bahwa rasa ketidaksukaan akan prestasi perempuan, menurut beberapa penelitian, justru berasal dari sesama perempuan. Dengan dasar bahwa sejak kecil kita sudah dibentuk menjadi golongan yang tidak suka berkompetisi, beda halnya dengan anak laki-laki yan...

Kok Perempuan sekolah tinggi??

" Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya hanya jadi ibu rumah tangga" "Kalo perempuannya pintar, mungkin banyak sih laki-laki yang minggir" Sering gak girls, statement kayak gitu menuai benih-benih perselisihan diantara kita? Tentang kesetaraan gender yang sampai saat ini disuarakan perempuan-perempuan di seluruh dunia. Gak hanya aspek pendidikan, tapi juga sosial, ekonomi, bahkan pemerintahan.  "Perempuan dan laki-laki memiliki peluang yang sama dong untuk mencapai apapun." Banyak yang berguman diantara kita. Well, sadar gak girls, jaminan keistimewaan dan kesetaraan gender ini sudah kita semua dapatkan saat pertama kali kita lahir ke dunia. Saat kita terlahir sebagai seorang muslimah.  Gilrs, sebenarnya Islam sangat sayang dengan kita. Betapa perempuan banyak di beri keistimewaan di banding laki-laki. Sama halnya seperti Islam memiliki figur-figur muslimah yang tercatat dalam sejarah.  Tersebutlah business woman yang usahanya sukses seantero ...

Perempuan, Media, dan Gerakannya

Gambar
Perempuan atau wanita? Pertanyaan ini sangat identik dengan jenis kelamin yang menyerap banyak sisi-sisi feminitas kosmik. Kita memanggilnya perempuan atau wanita sebenarnya bukanlah perdebatan yang substansial. Yang penting adalah bagaimana feminisme itu menyublim secara sempurna dalam diri perempuan (wanita) dan merealitas secara nyata dalam tindakannya. Meski banyak yang menolak dirinya disapa wanita dengan alasan kata ini identik dengan 'betina' yang memiliki makna tidak estetik untuk memanggil perempuan. Mengapa perempuan? Karena kata ini berasal dari kata ‘empu', yang menggambarkan bahwa merekalah sang empu atau kaum yang dihormati. Hanya perempuan lah yang bisa disebut ibu pertiwi, dewi kesuburan, dewi kecantikan,dann macan istilah lainnya. Istilah ini mengantarkan perempuan ke tingkatan yang mulia dan memang harus dimuliakan.  Dalam masyarakat modern penyelewengan makna istilah perempuan juga nampak di berbagai sisi. Kemudian, gerakan perempuan adalah ge...

Budaya dan Perempuan: Kontruksi yang tak memihak

Gambar
              Mengenai tulisan ini, saya sudah saya katakan sebelumnya perempuan itu cantik, tidak peduli dia tinggi atau pendek, kurus, gemuk dan atau sebagainya dia tetap cantik. Jadi tidak sepantasnya bentuk tubuh sempurna harus di tuntutkan kepada mereka. Mereka perempuan tapi bukan berarti kalian (Lelaki, dalam konteks ini tidak semua melainkan sebagian) hanya menjadikannya boneka barbie pajangan. Sungguh tak bisa ku nalar. Sebab terlahir menjadi perempuan dengan bentuk tubuh seperti ini bukanlah sesuatu yang menjadi kemauan kami, pun bukan perkara yang bisa kami tolak.          Perempuan kami juga punya akal dan logika, tapi bagaimana mereka bisa berkembang jika yang kau tanyakan hanyalah basa-basi gombalan tak bermakna. Ajak perempuan mu diskusi, angkat isu-isu sosial yang mendunia ataupun dalam lingkungan sekitar. Perempuan tidak hanya selalu soal perasaan, perempuan tidak hanya selalu soal make up dan manja...

Prahara Cantik

Menurut ku, semua perempuan itu cantik tanpa terkecuali dengan porsi yang sama dan tidak ada yang lebih. Yang ada hanyalah kau dan aku berlomba mendapatkan pengakuan orang lain. Tapi kami 'cantik' itu sudah pasti. Kata 'cantik' sudah menjadi hak milik kami yang sah dengan atau tanpa adanya persetujuan laki-laki. Perihal siapa yang paling cantik di antara kami itu tergantung si pemberi kata 'cantik' itu sendiri. Sebab, setiap kepala punya versi masing-masing.  Bisa saja kami merasa cantik karena kami pintar bersolek dengan polesan riasan wajah. Lalu bagaimana dengan perempuan yang terlihat menawan tanpa polesan make up? Atau kamu yang merasa cantik karena aksesoris dan pakaian mahal nan mewah. Tapi bagaimana dengan sebagian perempuan yang tidak mampu membeli barang semacam itu? Atau kalian yang merasa cantik karena berpasangan dengan pria tampan? Apakabar dengan yang mendapat pria lain? Itu semua tergantung persepsi masing-masing. Lalu bagaimana cantik versi mu?